Orang Kaya Ini Memberikan Uang 20 Juta Kepada Si Pengemis Karena Khawatir Ditipu Ia Pun Mencari Rumahnya Namun Yang Dilihat Malah

Zheng Xin-Sheng tahun ini berusia 50 tahun, ia memiliki sebuah perusahaan konstruksi yang sangat besar. Sebagai seorang jutawan, banyak orang yang mengaguminya. Namun ada satu hal yang membuat ia sangat khawatir, putranya yang berumur 22 tahun tidak mau belajar dan tidak memiliki keahlian apa-apa. Kerjaannya seharian hanya pergi mabuk bersama teman-temannya. Setengah tahun yang lalu dia ditangkap oleh polisi dan dimasukkan ke rehabilitasi karena ditemukan memakai narkoba dalam sebuah pesta malam. Minggu lalu ia baru saja pulang ke rumah, dan langsung meminta uang kepada ayahnya untuk pergi bersenang-senang. Zheng Xin-Sheng sangat marah dan menghentikan semua akses kartu kreditnya, ia mengurungnya dalam rumah. Zheng Liang sangat tidak senang seraya terus melototi muka ayahnya, dan dengan nada tinggi Zheng Liang berkata, "saya akan menjual mobil yang ada di rumah, jika kamu tidak memberikan saya uang". Zheng Xin-Sheng menjawab putranya, "minggu depan ikut ayah bersama-sama ke kampung, setelah itu ayah akan menuruti seluruh permintaanmu. Apa yang kamu mau akan kuberikan." Zheng Liang pun tersenyum sambil menyetujui perkataan ayahnya.

Blog BangRoyHan

Seminggu setelahnya, Zheng Xin-Sheng membawa putranya ke kampung, dengan menaiki kereta api. Zheng Liang sangat heran, mengapa tidak membawa mobil malah naik kereta api. Ia teringat kata ayahnya beberapa hari lalu yang menyuruhnya untuk membawa baju yang sederhana saja.

Harus Baca Sampai Akhir Nih

Zheng Xin-Sheng melihat wajah putranya, dan mengingat masa-masa saat ia masih umur segitu. Ia sudah harus pergi ke Surabaya sendiri untuk mencari kerja. Bekerja di sebuah perusahaan mesin setiap hari selama 15 jam dan sering dimarahi atasan. Setelah bekerja selama 3 tahun, barulah ia menjadi karyawan tetap. Dalam perjalanannya Zheng Xin-Sheng selalu melihat keluar jendela mengingat masa mudanya yang begitu pahit, berusaha sekuat tenaga untuk menghidupi anaknya kelak namun tidak menyangka masa muda anaknya yang sekarang malah seperti ini. Selain mabuk-mabukan, juga pergi berpesta bersama dengan teman-temannya. Setelah beberapa saat Zheng Liang memberi tahu kepada ayahnya bahwa ia lapar. Zheng Xin-Sheng mengeluarkan roti dari tasnya dan menaruhnya di depan anaknya. Melihat makanan seperti itu, Zheng Liang pun tidak menyentuh sedikitpun. Zheng Xin-Sheng hanya tersenyum tanpa berkata apapun, sambil tetap melihat ke arah jendela, ia memakan rotinya sendiri.

Blog BangRoyHan

Blog BangRoyHan

Matahari pun mulai terbenam Zheng Liang dibangunkan oleh rasa laparnya. Ia melihat seorang buruh yang duduk diseberangnya sedang asyik makan mie instan. Buruh tersebut pun datang menghampiri Zheng Liang dan menawarkan mie instannya, sambil menatap bajunya yang sangat lusuh tersebut, Zheng Liang langsung memalingkan wajahnya. Melihat kelakuan Zheng Liang seperti ini, Zheng Xin-Sheng pun menggelengkan kepalanya. Sekali lagi, ia mengeluarkan roti dari tasnya dan memberikannya kepada Zheng Liang. Zheng Liang langsung mengambil roti tersebut dan memakannya, begitu pula dengan roti-roti setelahnya.

Saat kereta berhenti dan sampai di tujuan, Zheng Xin-Sheng memanggil Zheng Liang untuk turun. Tidak jauh dari stasiun kereta tersebut, mereka melihat banyak orang yang sedang berkerumun, mereka berdua pun pergi dan melihat apa yang ada di sana. Ternyata beberapa kerumunan orang itu sedang mengelilingi seorang wanita berusia 30 tahunan yang sedang menggendong anaknya yang cacat dan tidak memiliki tangan. Wanita itu terus menundukkan kepalanya, tanpa melihat kerumunan di sekitarnya. Di depannya ada sebuah kotak yang berisikan beberapa uang receh. Di atasnya dituliskan 'untuk anak yang cacat', lalu disampingnya tertera KTP dan nomor telepon ibu tersebut.

Harus Baca Sampai Akhir Nih

Blog BangRoyHan

Melihat wanita ini, Zheng Liang langsung mengatakan kepada ayahnya bahwa wanita ini pastilah penipu. Banyak sekali yang menjadi pengemis di dekat Stasiun Kereta Api, seolah-olah tidak memiliki kaki dan tidak memiliki tangan. Zheng Xin-Sheng menatap dengan sangat lama KTP yang ada di samping kotak tersebut, anak yang cacat itu pun melihat kearahnya. Ia menjadi teringat ketika ia masih kecil, keluarga mereka sangat miskin dan tidak ada apa-apa. Suatu hari ada seorang pengemis yang mengetuk rumah mereka, ibunya sambil menangis memberikan semangkuk penuh nasi dan sup kepada pengemis tersebut.

Zheng Xin-Sheng mengelus ngelus kepala anak tersebut, ia mengeluarkan uang 10.000 yuan dari dompetnya dan memasukkannya ke dalam kotak ada di depan mereka. Wanita itu tetap tidak mengadakan wajahnya ke  Zheng Xin-Sheng. Satu tangan ia gunakan untuk menggendong anaknya, satu tangannya lagi ia gunakan untuk memegang kakinya Zheng Xin-Sheng. Zheng Xin-Sheng mengangkat tangan wanita tersebut dan berkata "berikanlah makanan makanan yang enak kepada anakmu." Lalu ia meninggalkan tempat tersebut.

Zheng Liang berkata kepada ayahnya, "Ayah kamu pasti sudah tertipu. Malam ini ia kan pulang dan mabuk-mabuk bersama dengan teman-temannya, sambil mengatakan 'kita sudah untung 10.000 yuan'." Zheng Xin-Sheng mengatakan kepada anaknya kalau ibu tersebut terlihat tidak terlihat seperti penipu. 

Blog BangRoyHan

Sesampainya di kampung, selama 5 hari mereka hidup sangat sederhana setiap hari hanya makan sayur asin dan roti tawar. Pada hari yang keenam saat mereka kembali ke stasiun kereta api dan akan pulang, mereka melihat ibu yang sama sedang menggendong seorang anak perempuan yang berbeda. Zheng Liang langsung berkata kepada ayahnya, "lihatkan! Apa yang aku bilang! Wanita ini tidak saja seorang penipu, dia juga seorang pedagang manusia.".  Zheng Liang langsung mengeluarkan HP nya hendak melaporkan pada polisi. Namun Zheng Xin-Sheng menahan tangannya dan berkata kepada anaknya, kita tunggu sampai malam, lalu kita ikuti mereka saat mereka pulang.

Saat hari Mulai gelap wanita ini bersiap-siap untuk pulang. Zheng Xin-Sheng dan anaknya mengikutinya dari belakang. Wanita ini sampai ke sebuah rumah yang sangat sederhana, dan terlihat seperti sebuah Panti Asuhan tua.

Ternyata setelah melihat kedalam, Zheng Xin-Sheng dan Zheng Liang tidak bisa mempercayai apa yang mereka lihat. Ada sekitar 6 sampai 7 anak kecil penyandang cacat yang berada di sana. Wanita ini dengan senyuman membantu anak-anak tersebut. Membantu anak-anak yang tidak bisa bangun dari kasurnya untuk buang air besar, melap badan mereka dan menggantikan popok. Sungguh sebuah muka yang penuh suka cita, sama sekali berbeda dengan apa yang ia kerjakan di siang hari. Mata Zheng Xin-Sheng mulai meneteskan air mata, melihat Putra disampingnya Zheng Liang pun yang diam diam melap air matanya. Mereka pun keluar dari tempat tersebut dan memilih untuk menginap di daerah tersebut satu malam lagi. Esok harinya mereka pun pergi meninggalkan tempat tersebut.

Setelah hari mulai gelap, wanita yang menggendong anaknya tersebut kembali ke panti asuhan. Ia melihat ada sebuah koper yang besar, dan tertempel sebuah surat diatasnya. Anak yang paling besar di Panti Asuhan tersebut mengatakan bahwa siang tadi ada dua orang yang datang kemari dan mengatakan bahwa koper ini untuk Mama. Mereka berpesan agar Mama sendiri yang membukanya saat pulang. Diatas suratnya tertulis 'untuk mama yang baik hati', membaca surat ini ia pun menangis.

Wanita ini bernama Wang Xiao-Lu, ia menikah 5 tahun lalu dan mengadopsi seorang anak cacat. Suaminya tidak tahan dan menceraikannya. Setelah itu ia terus menurus mengadopsi 6 sampai 7 anak anak cacat yang tidak diterima oleh orang tuanya, namun karena beban yang terlalu besar yang harus ditanggung, pada saat siang hari ia hanya bisa pergi ke stasiun kereta api untuk menjadi pengemis. Saat malam ia pulang untuk menjaga anak-anaknya. Wang Xiao-Lu melakukan hal ini sudah hampir 5 tahun. Saat mebuka isi kopernya, ia mendapati ada uang 800.000 yuan, ia meluk semua anak anaknya sambil menangis.

Zheng Liang pulang ke rumahnya, ia putus kontak dengan teman-teman pemabuknya, dann dengan serius membantu ayahnya menjalankan perusahaan. Ia juga sering mengikuti kegiatan kegiatan Amal.

Sumber (Unik) http://www.cerpen.co.id/post_141712.html

Blog BangRoyHan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *